4 isu utama yang digunakan untuk menyerang Jokowi

Pilpres 2019 sebentar lagi tiba, dengan dua calon presiden dan wakil presiden yang sudah ditetapkan, yakni paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin dan paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno.

Berbagai cara tentu sudah disiapkan masing – masing kubu untuk mengikuti kontestasi pemilu ini, dari pihak jokowi tentu sudah menyiapkan beberapa program dan janji kampanyenya, kebanyakan tidak lepas dari pencapaian kerja jokowi selam ini. Tentu misi Jokowi saat ini adalah bagaimana menyiapkan gagasan baru agar pemerintahannya tetap eksis di periode berikutnya dan melanjutkan program kerja yang masih dilaksanakan sekarang ini.

Sementara dari kubu sebelah juga tak mau kalah dengan menyiapkan program – program, visi misi dan mengangkat isu ‘kontra pemerintah’ guna dengan tujuan sama agar mereka terpilih menjadi presiden yang baru. Akan tetapi ide yang disampaikan pada kubu paslon penantang jokowi agaknya memberi kesan bukan new idea semata namun juga disiapkan isu utama yang digunakan untuk menyerang kubu petahana yakni Jokowi, tujuannya agar pemerintah sekarang terkesan tidak baik dalam mengurus negara ini, tentu isu yang digodok pihak penantang petahana bukanlah isu murahan namun juga belum tentu bisa menurunkan elektabilitas Jokowi dan menaikkan elektabilitas mereka, kami sudah merangkumnya dalam poin berikut ini.

  1. Ekonomi

Sudah disampaikan secara resmi dari pihak penantang Jokowi yakni Prabowo-Sandi, bahwa isu ekonomi akan sering digencarkan untuk disuarakan.

Dewasa ini nilai tukar rupiah dengan dolar melambung tinggi hingga 15.000 (per oktober), utang luar negeri Indonesia yang cukup tinggi, beberapa harga bahan makanan pokok dan BBM pun mengalami kenaikan, serta isu biaya hidup dan lapangan kerja yang menjadi bahan utama dari pihak Prabowo-Sandi untuk disampaikan pada pihak petahana, yang terbaru adalah persoalan borosnya anggaran Pertemuan IMF-World Bank.

Memang sekilas ini adalah isu yang sangat hangat dimasyarakat karena memang kenyataan harga barang mengalami kenaikan, namun perlu diketahui dari pihak Jokowi sendiri mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini mengalami kestabilan di angka 5 persen melalui data yang valid, mengenai rupiah bisa dibilang karena faktor eksternal (misal perang dagang dan menguatnya dolar), kemudian harga BBM yang memang sebenarnya memang subsidi untuk beberapa jenis BBM dicabut sehingga mengikuti harga pasar (harga minyak mentah dunia).

Jika dari pihak Jokowi tidak bisa mengatasi isu utama ini, bukan tidak mungkin elektabilitas Jokowi akan menurun dan isu utama ini bisa dimanfaatkan oleh kubu Prabowo-Sandi.

  1. Agama & Kriminalisasi Ulama

Sebenarnya isu ini tidak muncul sejak Jokowi terpilih menjadi presiden, namun semenjak tahun 2016 dimana ada kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang diikuti dengan aksi 212 dan berdampak pada politik identitas dimana islam sebagai agama mayoritas harus dijunjung tinggi keberadaannya dari segi politik.

Pada periode setelah itu ada beberapa ulama yang tersandung kasus hukum karena kasus ujaran kebencian dimana hal ini menurut pihak eks aktivis 212 dan sejenisnya merupakan sebuah kriminalisasi ulama. Isu utama ini bisa jadi salah satu isu yang cukup berpengaruh apalagi pihak oposisi kita tahu juga terdapat partai islam yang cukup berpengaruh.

Selain itu dari pihak oposisi berasumsi bahwa Jokowi bukanlah tokoh yang dekat dengan agama Islam (memiliki jarak yang lebar dengan kehidupan beragama). Dari pihak Jokowi sudah menampik bahwa Jokowi bukan tokoh seperti itu, masalah kriminalisasi ulama menurut Jokowi adalah urusan hukum masing – masing pihak yang bersangkutan, dan menurutnya ulama mana yang dikriminalisasi, sedang jika dibilang Jokowi tidak islami/agamis pada pilpres ini sendiri sudah mencalonkan diri dengan K.H. Ma’ruf Amin yang merupakan salah satu ulama penting yang juga masih bagian dari MUI dan memiliki nilai agamis yang cukup baik.

Jokowi juga sudah sering mengadakan pertemuan dengan ulama baik itu tingkatan pengajian maupun formal seperti pertemuannya dengan pengurus alumni 212 beberapa waktu lalu membahas kriminalisasi ulama. Dengan kondisi seperti itu dapat disimpulkan bahwa isu agama bisa dibilang ‘kurang laku’ namun masih berpengaruh bagi pilpres 2019 kedepan untuk menyerang kubu Jokowi.

  1. PKI

Sebenarnya isu ini berbarengan dengan isu agama yang dihembuskan beberapa waktu lalu, agak aneh memang karena secara sejarah ideologi ini sudah jelas dilarang dan bagaimana mungkin bisa masuk ke dalam diri / kubu Jokowi. Secara resmi memang tidak disampaikan secara langsung oleh kubu paslon penatang, namun isu ini sudah berhembus lama sekali bahkan sebelum pilpres 2019 dimulai gaungnya. Isu PKI kebanyakan digaungkan di daerah – daerah dan Jokowi sudah berusaha pada kadernya di daerah untuk meluruskan hal tersebut.

  1. Antek Asing

Isu ini merebak di masyarakat dengan menyebutkan Jokowi menjual aset negara dan lebih memilih pekerja asing datang ke Indonesia dengan jumlah yang besar (klaim mencapai 10 Juta). Dari pihak Jokowi sendiri sudah memberitahu bahwa aset negara justru sekarang menjadi milik negara (misal saham Freeport dan Blok Mahakam), serta mengenai tenaga kerja asing Cina yang menurutnya adalah 10 Juta tidak benar karena menurut data pemerintah jumlahnya hanya puluhan ribu, 10 Juta adalah angka jumlah wisatawan Cina yang datang ke Indonesia melalui sebuah kerjasama.

Adu gagasan dan adu ide dalam pilpres memang sudah menjadi keharusan agar pilpres berjalan aman dan damai tanpa adanya intrik dan konflik yang menerpa bangsa ini, tentu kedua belah pihak tidak ingin memecah belah bangsa hanya karena pilpres. Namun alangkah bijak jika gagasan dan ide yang ditujukan pihak penantang petahana adalah isu utama yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan, jadi isu itu memang bertujuan untuk kritik bukan sentimen belaka, semoga pilpres kedepan yang sebentar lagi terselenggara bisa damai dan tertib tanpa membuat perpecahan bagi bangsa ini.

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *